Berita  

Tegaskan Peran Pesantren Cegah Radikalisme-Terorisme

Semarnews.com | Semarang – Pesantren dalam sejarah perjuangan bangsa ini memiliki peran besar. Resolusi jihad yang diperingati sebagai hari santri nasional adalah sebagian kecil dari peran yang dilakukan. Namun demikian, adanya aksi radikalisme dan terorisme yang selalu mengatasnamakan Islam dewasa ini menjadikan citra Islam dan Pesantren menjadi tidak baik. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Bidang Penelitian FKPT Jateng, Dr. KH. Syamsul Maarif, MAg dalam rapat koordinasi yang digelar di sebuah rumah makan di Semarang, hari ini, (02/06/2018).

Pesantren adalah gawang bagi radikalis dan teroris, kata Syamsul, namun demikian peran santri kurang tampak terekspos dengan baik. Ia menyayangkan maraknya radikalisme dalam Islam dan aksi teror atas nama Islam. Hal ini, menurut dia, tidak lepas dari framing-framing yang dikemas dan dikembangkan seolah Islam terdzalimi. Selain itu, munculnya pesantren-pesantren yang tidak mencerminkan kultur pesantren khas Indonesia menjadi tanda tanya tersendiri.

Alternative Text

Syamsul yang juga ketua ISNU Kota Semarang ini menerangkan, perkembangan Islam yang mulanya dikembangkan dengan pola yang halus, Islam masuk melalui budaya. Karena itu pesantren yang khas Indonesia selalu mencetak kader yang nasionalis. Sebab, para santri produk pesantren mampu menghargai budaya bangsanya dan mengemasnya dengan memasukkan unsur agama ke dalam budaya.

Senada dengan Syamsul, ketua FKPT Jateng, Dr. Drs. Budiyanto, SH, MHum menegaskan bahwa santri memiliki peran strategis dalam menjaga kedaulatan Negara. Pesantren di Indonesia tidak ada yang mengajarkan paham radikal. Budiyanto menyatakan bahwa pesantren tidak berfikir untuk berlaku radikal dan teror. Dalam sejarahnya, Budiyanto mengungkapkan, pesantren dan para Kiainya mampu momong masyarakat, mengarahkan kehdupan masyarakat ke arah yang lebih baik.

Dalam rakord tersebut, direncanakan FKPT selanjutnya untuk melakukan anjang sana dengan pesantren-pesantren yang ada dan berkembang di Jateng. Hal ini, dimaksudkan untuk menepis adanya asumsi negatif terhadap pesantren. Lebih lanjut kata Budiyanto, peran pesantren ini harus dibentengi dari paham radikalis. Sebab, kata dia, pesantren merupakan aset besar bagi pembangunan bangsa. (HQ.semarnews)

Alternative Text
Alternative Text

Tinggalkan Balasan