Berita  

Meriah! Kreatifitas Seni Santri Warnai Malam Muwada’ah Akhirussanah Pesantren Al-Badriyyah Mranggen

Pondok pesantren al badryyah meranggen

Pondok Pesantren Al-Badriyyah Suburan Mranggen Kabupaten Demak menggelar acara Muwada’ah (perpisahan) yang merupakan puncak dari Akhirussanah di halaman pesantren pada Kamis (10/3).

Setiap tahun kegiatan ini sudah menjadi kebiasaan dan tidak pernah ditinggalkan, bahkan sudah merupakan keharusan dan tradisi untuk menutup kegiatan pesantren setiap akhir tahun khususnya untuk santri di kelas akhir.

Alternative Text

Kegiatan tersebut diawali dengan musabaqoh atau perlombaan yang bersifat khas pesantren atau hiburan semata sejak dua minggu sebelumnya. Seperti lomba baca kitab kuning, muhafadhoh bait Imrithi dan Alfiyah, pidato Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, Kaligrafi, Adzan, Cerdas Cermat, Puitisasi Al-Qur’an, Futsal, Stand Up Comedy dan lain-lain.

“Acara Muwaddah ini memang kami gelar rutin setiap tahun sekali, namun dari tahun ke tahun acara ini kami buat semeriah mungkin agar masyarakat mengetahui sejauh mana kemajuan pesantren ini. Alhamdulilah semua bisa berlangsung lancar “, tutur M. Musmul Arief Utomo selaku ketua panitia penyelenggara.

Gema shalawat menjadi awal dibukanya acara Muwada’ah pada ba’da Isya’. Terlebih, suasana berubah menjadi hening tatkala seorang santri melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Setelah itu dilanjutkan qiro’ah mandzumah bait-bait Alfiyah oleh santri kelas akhir Madrasah Diniyah di hadapan tamu undangan.

Pengasuh pondok pesantren Al-Badriyyah Mranggen Demak, Romo KH Muhibbin Muhsin Al-Hafidh memberikan pesan kepada para santri terlebih santri kelas akhir bahwa ukuran ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dapat membawa santri bertambah giat dalam  beribadah dan bertambah ketakwaannya kepada Allah SWT.

“Selain itu, akhlaknya akan semakin bertambah baik dalam hubungan kemasyarakatan di lingkungan masing-masing,” jelasnya.

Beliau menambahkan, waktu harus dimanfaatkan secara maksimal. Waktu siap menggilas siapapun yang terlena. Tajamnya waktu tak mengenal kompromi. Karenanya, santri sebagai generasi muda penerus para kiai atau ulama harus dapat mengoptimalkan masa belajarnya.

Pesan khusus juga ditujukan kepada santri putri oleh Nyai Hj Nadliroh Ma’shum Al-Hafidhoh agar selalu menjaga batas-batas aurat dan cara berpakaian menurut ajaran agama Islam yang sudah dipelajari di Pesantren selama ini.

“Jangan memakai busana yang mempertontonkan aurat. Tampil cantik dan elegan tidak harus memakai pakaian yang ketat dan transparan. Apalagi hal tersebut sangat dilarang oleh agama,” ujarnya.

Beliau juga mengharapkan agar para santri selalu menjaga hubungan tali silaturrahim antar santri dengan asatidz dan juga keluarga besar pesantren, karena disadari atau tidak, kiai akan selalu mendoakan yang terbaik bagi santrinya.

Mewakili dewan asatidz, KH. Muhammad Hafidz Al-Ma’zi menuturkan pesantren adalah miniatur masyarakat, hal-hal yang terjadi pesantren juga terjadi di masyarakat. Maka, dengan mempelajari apa-apa yang terjadi dipesantren dari tata cara bergaul maka santri nantinya akan terbiasa bergaul dengan masyarakat yang heterogen.

“Untuk itulah santri selama di pesantren diajarkan untuk riyadloh dan tirakat dalam rangka melatih untuk mengalahkan hawa nafsunya sendiri.” paparnya.

Salah seorang santri, Wildan Ali Zuhri dalam sambutan mewakili santri lainnya menghaturkan syukur dan terima kasih atas bimbingan dan pengajaran dari pengasuh dan para asatidz selama ini. Ia juga berpesan kepada teman-temannya agar tetap semangat menjalani semua proses ke depan.

“Terus mengaji, belajar, muthola’ah dengan istiqomah, karena kesuksesan itu direncanakan,” katanya.

Kemeriahan event Muwada’ah juga diwarnai beragam penampilan kreatifitas santri setelah pengumuman dan penyerahan hadiah pemenang lomba dimana komplek Pesantren Al-Badriyyah 2 Rayungkusuman Mranggen menjadi juara umum. Para santri menampilkan berbagai ragam kreatifitas seni pesantren, seperti  shalawat, teatrikal, puisi, nyanyian lagu dan drama.

“Muwada’ah ini bukan sekedar rutinitas setiap tahun, melainkan menjadi suatu momen yang sakral sebagai simbol pamit dan memohon ridho pengasuh dan dewan asatidz,” pungkas Inda Ni’matul M, salah satu Pengurus Putri Pesantren Al-Badriyyah.

(Ben Zabidy – 081325672112 – PP. Al-Badriyyah Mranggen)

Alternative Text
Alternative Text

Tinggalkan Balasan