Islam di Nusantara Dalam Menjaga Semangat Cinta Tanah Air


Nilai Pancasila dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara untuk mempererat persatuan bangsa ini maka yang harus dilakukan ialah tidak memandang suku, bangsa, agama, ras, ataupun lainnya. Menjunjung tinggi nilai toleransi dan Islam yang rahmatan lil alamin dapat menunjukkan dengan sikap dan perilaku kita di masyarakat yang menghormati dan memahami segala perbedaan yang ada. Sehingga ukhuwah wathaniyyah  dan ukhuwah islamiyah dapat terwujud.

 Bekal mata kuliah yang memberikan dampak moderat misalnya perbandingan agama (studi tentang lintas agama) untuk membuka cakrawala mahasiswa tentang keragaman agama sekaligus mendewasakan sikap mereka dalam menghadapi keragaman. Mata kuliah resolusi konflik disajikan agar mahasiswa terlatih menyelesaikan berbagai konflik, baik atas nama agama maupun konflik sosial. Usaha pembelajaran secara teoritik juga harus disertai proses internalisasi nilai-nilai kedamaian, kemodernisasian dan kesantunan, terutama di tengah-tengah masyarakat yang heterogen menjadi suatu keniscayaan dalam mengekspresikan sikap keberagamaan diri masing-masing.

Salah satu ancaman keberagaman di Indonesia dalam meneguhkan semangat tanah air adalah radikalisme. Radikalisme berasal dari kata radix yang memiliki arti “akar”. Radikalisme merupakan paham lebih cenderung tekstualis dalam membuat suatu keputusan. Radikalisme sudah ada sejak lama di belahan dunia. Namun, dengan keberadaan media sosial dan berbagai platform yang banyak fiturnya, radikalisme semakin cepat tersebar ke seluruh penjuru dunia. Radikalisme di Indonesia teridentifikasi sebagai paham yang tidak ingin adanya perubahan sistem sosial atau politik secara karena menurutnya segala hal pasti harus sesuai dengan apa yang telah dimaktubkan dalam  beberapa sumber  pedoman hukum, karena lebih tekstualis dan rendahnya nilai negosiasi dari perbedaan pandangan tidak jarang menimbulkan perpecahan bahkan pertumpahan darah. 

Radikalisme umumnya berkaitan dengan ketatanegaraan yang diwujudkan dengan keinginan untuk mengubah konstitusi yang memang sama persis dan sesuai teks. Kalangan radikalisme memiliki cita-cita untuk mengembalikan khittah Islam dengan cara  mengkhilafahkan pemerintahan Indonesia.  Para agen radikalisme tersebar di seluruh dunia untuk menyebarkan paham tersebut supaya orang terpengaruh dan ikut mendukung radikalisme. Meningkatnya radikalisme dengan kedok agama di Indonesia menjadi fenomena sering kita dengungkan, hal ini menjadi bukti nyata yang tidak bisa begitu saja diabaikan.  Salah satu organisasi radikalisme yang mengatas namakan agama yang berada di Indonesia yang lebih banyak dikenal di media sosial terutama adalah Front Pembela Islam dan Hizbut Tahrir Indonesia.

Media massa di Indonesia memiliki berbagai kasus yang diakibatkan oleh paham radikalisme, yang justru malah karena merugikan terhadap akses pelayanan publik seperti:  penyadapan, pembunuhan, perusakan fasilitas ibadah, diskriminasi, dan gerakan-gerakan yang melanggar ketentuan agama. Apabila hal ini tidak dapat diselesaikan maka dikhawatirkan mampu mengakibatkan perpecahan bahkan berlanjut pada rusaknya  moral generasi bangsa.

Islam yang ada di bumi Nusantara meneguhkan keberislaman dalam konteks keindonesiaan yang plural sehingga Islam menjadi penjamin toleransi terhadap budaya lokal dan tidak bertentangan dengan agama, berdialog dengan penuh kesantunan,  memberi teladan dengan akhlaqul karimah, dan persatuan nasional sesuai dengan filosofi Bhineka Tunggal Ika. Islam yang ada di Nusantara dari segi perpolitikan adalah Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah Annahdhiyyah. 

Dalam tahapan menyebarkan dakwah Islam, ulama’- ulama NU sejak dulu  berjuang untuk melestarikan budaya lokal yang berkembang di bumi Nusantara tanpa merusak keindahan budaya lokal didalamnya. Artinya para ulama mengupayakan agar budaya yang ada dengan ajaran Islam diislamisasikan menjadi sebuah budaya yang tidak mengantarkan pada kemusyrikan sehingga menghadirkan Islam adalah agama yang rahmah. Strategi ini dipandang sebagai salah satu bentuk kecerdasan dan fleksibilitas para ulama Nahdhiyyin  ketika dalam berdakwah. Sehingga Islam bisa diterima dengan legowo oleh para penduduk Nusantara tanpa ada gejolak dan konfrontasi.

Salah satu  karakteristik Islam di  Nusantara ala Annahdhiyyah untuk meminimalisir  radikalisme yaitu dengan amaliah-amaliah kultur Jawa berlandaskan corak yang khas. Seperti budaya nahdliyin sholawatan, pengajian ala kiai kampung, istighosah, tahlilan dan masih banyak lagi. Amaliah-amaliah tersebut harus digiatkan sebagai pemahaman pembanding. Karena, radikalisme muncul karena sifat merasa paling benar dan menganggap kelompok lainnya salah dan tidak diberikan kesempatan untuk benar. Maka, selama tradisi kaum nahdliyin  lestari, hal itu bisa menjadi benteng dari kelompok radikal. 

Contoh lain adalah metode dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga dengan media wayang kulit pada zaman Walisongo kala itu. Para Walisongo tidak hanya menghilangkan adat lokal yang sudah lebih dulu ada di lingkungan masyarakat, namun juga merawat dan mengakulturasikan Islam ke dalam tradisi lokal. Sehingga, masyarakat menjadi tertarik untuk mengikuti atau mendengarkan dan akhirnya masuk agama Islam.

Memang benar, bahwa Islam kebetulan diturunkan di tanah Arab. Tetapi, kita harus ingat bahwa manusia diciptakan oleh Allah dengan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa (beragam firqoh), bukan cuma Arab saja. Kita bangsa  Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia. Bukan menjadi bangsa selain Indonesia. Bertanah air satu, tanah air Indonesia. Maka kita wajib memiliki jiwa nasionalisme melalui menghormati perbedaan antar sesama. Cinta tanah air tidak cukup  hanya dengan kata-kata. Tetapi  juga harus dibuktikan dengan tindakan seperti menjaga kerukunan, kelestarian alam dan adat istiadat. Islam adalah ajaran agama yang membawa rahmat dan kasih sayang. Islam tidak menganjurkan  kekerasan, tidak memperintahkan bermusuhan, apalagi membunuh orang lain meskipun terhadap mereka yang berbeda agama. Dakwah bukan hanya untuk amanu wa amilus sholihat; iman dan amal soleh, melainkan juga dengan prinsip baladil amin ; membuat sebuah negara yang aman. Menerima hal-hal baru baik berkaitan dengan budaya atau pemikiran dari luar sepanjang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Berdakwah dengan menerapkan sikap toleran, bersikap hati-hati dalam menjatuhkan vonis kafir, sesat dan berdialog dengan penuh kesantunan, menggunakan kebudayaan setempat, karena Islam dan budaya itu tidak bisa dipisahkan.


Penulis : Irawati,KKN-MDR Sinerba IPMAFA


 

Diterbitkan
Dikategorikan dalam Berita

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *