Aku, Kau, dan Negeriku

  • Bagikan
foto:nationalgeographic.co.id
Bertanya kapankah ?
Kau mengutuk pertanyaan-pertanyaanku
Aku ini ingin merajuk
Bertanya sampai manakah ?
Kau mengganaskan peluru malangmu
Aku ini ingin merajuk
Bertanya dari manakah asalnya keruh ?
Kau salahkan sebelummu
Aku ini ingin merajuk
Ingin ku mengajakmu bernostalgia
Agar kenangan itu terbuai kembali
Tetapi, kau mahadahsyat merajuk !
Jadi kau yang merajuk, aku yang terkutuk
Aku kau ini negeriku
Katanya…
Negeriku milikmu negeri kita
Negerimu miliku negeri kita
Masih sama berbaris sajak
Aku kau negeriku…
Kakek bersendehkan tembok malang
Cucu berkalung tasbih mendoa
Kepada illahi akan kepercayaan
Melihat pancaran masa depan yang
Mengalir mengikuti  arus
Aku kau negeriku…
Di dalamnya akan ku dongengkan
Sebuah roman kebodohan !
Dengarkan…dengarkan..
Janji demi janji terlontar sangat deras
Realitanya sudah menjadi hal wajar
Negriku bukan tong sampah !
Yang seenaknya bisa dipermainkan kapan saja
Bahkan Menindas sudah dianggap malaria
Adu domba pun menjadi senapan andalan
Rakyat kecil yang hanya bisa berpangku tangan
Menikmati Kebiadaban yang sangat memalukan
Aku malu, malu pada pejuang terdahulu
Pada cita cita membara bangsa ini
Pada leluhur sejarah yang telah terkubur
Pada Tuhan Yang Maha Esa
Bahkan aku mencoba butakan hati
Melihat berita berita di televisi
Lebih baik aku mengurung diri
Menunggu sang keajaiban datangi bangsa ini

Purwokerto, 1 Juni 2016

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *